Pages - Menu

Sabtu, 03 Maret 2018

penyesalan

Aku Benci Jatuh Cinta..!!

Jika kamu adalah hujan yang hanya lewat sekejap lalu lenyap,
Jangan janjikan aku pelangi untuk melukis langitku,
Meski rinaimu menyejukkan,
Meski rindumu mengharukan,
Namun hujamanmu serupa rintik-rintiknya yang menerpa menampar tepat di wajahku,

Aku benci jatuh cinta........
Hanya karna sebuah rasa yang di namakan "takut kehilangan"
Hanya karna ada kekhawatiran bahwa suatu hari kau akan berhenti melakukan hal yang sama seperti yang Kamu lakukan disaat membuatku jatuh cinta.

Lalu, bagaimana aku bisa mengelak jika semua hal yang kau lakukan adalah sebuah upaya untuk mendekatkan kita?
Bagaimana aku bisa menghindar jika tak sedikitpun hariku terlewatkan tanpa melihat namamu menari indah dalam sebuah pesan di ponselku?
Bagaimana bisa aku menghempasmu, sementara yang bertiup di sekelilingku adalah angin yang membawamu untuk menuju ke hatimu?
Bagaimana ini, tolong kamu yang sudah membuatku jatuh cinta, katakan aku harus bagaimana..?

Aku benci jatuh cinta,
sekali lagi aku benci jatuh cinta!
jika perasaan ini hanya akan menjatuhkanku ke dalam luka yang lebih dalam nantinya....  

Senin, 13 Juni 2016

Agen Neptunus: Kenapa harus berpisah ?

Agen Neptunus: Kenapa harus berpisah ?

Kenapa harus berpisah ?

Dipertemukan oleh satu moment. Moment kebahagiaan untuk kita semua. Dari situ ada sedikit celah untuk perasaan yang tidak biasa. kenyamanan dari orang baru yang membuat waktu terasa indah. Awalnya dengan modal kenyamanan, terbesit keinginan untuk memiliki.
Entah kenapa untuk memilikinya rasanya tidak mungkin. Rasanya tidak pantas jika saya bersanding dengan dirinya. Itulah alasan kenapa saya menarik diri dan menjaga jarak dengan kamu. Bukannya tidak sayang, karena saya sayang sama kamu saya tidak mau melihat kamu tersakiti.
Saya tahu setelah kamu merasa nyaman dengan saya, kamu kira saya pergi ninggalin kamu. Itu tidak benar. saya masih ada untuk kamu tapi saya tidak mau di antara kita ada kata "pacaran" saya mau kita cukup berteman.
Pikiran kita berbeda, kamu ingin ada status sedangkan buat saya temen sudah lebih dari cukup.
Dan akhirnya kisah kita berakhir dengan diam, tanpa ucapan selamat tinggal.
Berawal dengan banyak kenangan dan berakhir dengan banyak tanda tanya???!!!

Senin, 06 Juni 2016

Ada Apa Dengan Hati ?

Terkadang hati ini ingin cinta, ingin memiliki dia untuk sekedar tau apa yang orang lain rasakan. tapi gak bisa...Ada yang bilang, kalo sesuatu yang kita mau enggak semua nya bakal  terwujud.
Kesekian kali nya hati ini terus menyakiti orang tanpa salah apapun. ada apa dengan hati ini?
Apakah ini pertanda buat saya untuk selalu sendiri, menjadi penonton atas bahagia orang lain? saya gak bisa dan siapapun pasti engga ada yang mau..
Apakah ini pertanda atas cerita yang belum usai?, cerita cinta yang belum sempat terucap karena ego masing-masing dan malah memilih untuk pergi???!!
Apakah ini jawaban yang selama ini membuat hati terus menyakiti orang lain? atau apakah ini takdir hidup saya untuk sendiri selamanya dan terus menjadi penonton orang lain?

Jika itu benar, apakah saya boleh memilih untuk tidak punya hati dan biarkan saya hidup tanpa hati... Biarkan saya menjalani hidup dengan tenang tanpa rasa bersalah.
"Enggak mau memiliki dan dimiliki orang lain. tapi kenapa kamu terus mencari dan menyakiti orang lain"
saya lelah dan saya gak mau terus seperti ini...
ADA APA DENGAN KAMU HATI....?!!!!

Rabu, 05 Agustus 2015

Menderita oleh hati sendiri

Berat, memang berat untuk meninggalkan semua. Mereka yang kita sayangi, mereka yang selalu ada. Saya yakin dengan jalan yang saya ambil. Hati ini berkata inilah yang terbaik.
Bayangkan ketika seseorang merasa nyaman dekat anda dan anda sendiri merasakan hal yang sama. Tapi di tengah jalan hati anda berkata 'ayo lari, terus lari sampai kamu tau'. Kalau saja mereka tahu selama ini hati begitu menderita. Sakit, lebih sakit dari yang mereka rasakan.
Sangat kejam ketika saya melakukan itu kepada mereka semua. Seharusnya saya bisa ngelawan, tapi kenyataannya enggak bisa. Diam kayak orang goblok!!!
Sendiri? Itu kata yang tepat buat saya. Berjuang untuk mencari jawaban yang saya cari sendirian.
Saya harus bisa dan saya gak bisa nyakitin orang-orang yang saya sayangi.
Tuhan bantu saya tuk dapatkan jawaban itu, kasih petunjuk, pertanda yang bisa saya mengerti.
Tidak kah Engkau tahu sebegitunya menderita hati saya ?!!!!!

Senin, 18 Mei 2015

Benci dan benci

Aku Benci Jatuh Cinta..!!

Jika kamu adalah hujan yang hanya lewat sekejap lalu lenyap,
Jangan janjikan aku pelangi untuk melukis langitku,
Meski rinaimu menyejukkan,
Meski rindumu mengharukan,
Namun hujamanmu serupa rintik-rintiknya yang menerpa menampar tepat di wajahku,

Aku benci jatuh cinta........
Hanya karna sebuah rasa yang di namakan "takut kehilangan"
Hanya karna ada kekhawatiran bahwa suatu hari kau akan berhenti melakukan hal yang sama seperti yang Kamu lakukan disaat membuatku jatuh cinta.

Lalu, bagaimana aku bisa mengelak jika semua hal yang kau lakukan adalah sebuah upaya untuk mendekatkan kita?
Bagaimana aku bisa menghindar jika tak sedikitpun hariku terlewatkan tanpa melihat namamu menari indah dalam sebuah pesan di ponselku?
Bagaimana bisa aku menghempasmu, sementara yang bertiup di sekelilingku adalah angin yang membawamu untuk menuju ke hatimu?
Bagaimana ini, tolong kamu yang sudah membuatku jatuh cinta, katakan aku harus bagaimana..?

Aku benci jatuh cinta,
sekali lagi aku benci jatuh cinta!
jika perasaan ini hanya akan menjatuhkanku ke dalam luka yang lebih dalam nantinya....  

Kepada kamu, Dengan penuh kebencian



Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu..., tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, "Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common," harus dimentahkan oleh hati yang berkata, "Jangan hiraukan logikamu."

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan...

aku takut sendirian.

---

#terimakasihbangRAditya

Minggu, 17 Mei 2015

terbelenggu

Nus, semuanya benar kata keenan. Pikiran itu gak bisa mengerti hati!
Ajari saya menjadi naif senaif mungkin. saya berusaha menutupi apa yang di rasa, membelokkan semua yang di katakan oleh hati. hati bilang saya cinta dia dan harus di perjuangkan, tapi pikiran saya terus menyangkalnya. Apa yang bisa di perbuat sementara pikiran mengatakan kebenaran ' kamu tidak pantas untuk dia ' .
Hati saya terlalu pede untuk menyimpulkan perasaan ini.
Ikuti kata hati kamu karena apa yang di katakan hati selalu benar, tapi pikiran? Entahlah.....

Sabtu, 16 Mei 2015

harapan itu tetep ada

Tuhan, saya tidak tau apa yang saya rasain saat ini.
Apakah harapan yang selama saya cari ataukah ini harapan kosong?
Hati ini terasa bergejolak serasa hati sama pikiran lagi perang.
Hati sama pikiran memang gak bakal ketemu, karena pikiran gak bisa mengerti hati.
Hati gak bisa bohong tapi pikiran itu munafik, egois tingkat tinggi dan terus berusaha naif.
Dan pada akhirnya hati lah pemenangnya. Saya akui saya amat mencintai dia.
Ini bukan harapan kosong dan saya yakin dengan kata hati ini....

keegoisan bertahan dalam kesendirian

Sendiri ?
Menurut saya itu bukan masalah. Bukan juga nasib yang harus di ratapi, tapi sendiri itu pilihan...
Mungkin kita akan merasa kesepian. Memang benar!!
Akan ada dimana kita butuh seseorang untuk mengerti kita. Tapi orang selalu maksain sama orang yang tidak tepat, dan lahirlah rasa sakit itu.
Saat ini saya menemukan orang yang selama ini saya cari, buat saya nyaman dan tertawa lepas. Tapi saya tidak mau melepas hati ini untuk bebas. Saya tidak bisa meminta dia untuk mencitai saya.
Saya akui saya amat sayang dan menginginkan dia, tapi saya gak bisa. Saya terus coba untuk menahan perasaan ini. Karena saya tidak bisa membuat seseorang betah dan nyaman untuk waktu yang lama. Kekurangan dan keadaan saya yang membuat saya bertahan sendiri...

Saya cinta kamu sampai kapanpun. I just love you.....!!?

Minggu, 12 April 2015

Diterpa ‘Gelombang'


Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin ‘nambah’ sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan’. Atau paling tidak, 'bersabar’ dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir’.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tan Diterpa ‘Gelombang’
Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin ‘nambah’ sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan’. Atau paling tidak, 'bersabar’ dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir’.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tanpa kekhawatiran akan ada yang membunuh kita sebelum terbangun?

Itulah alasan, mengapa Alfa mengiyakan pekerjaan yang membuatnya selalu terjaga. Di luar ia ingin membayar hutang Bapaknya pada saat mengirimnya ke Amerika, atau mewujudkan impian Amanguda  Hoboken untuk pulang ke Indonesia bertemu pohon Andaliman serta memakamkan abu Inangudanya.

Obsesi Bapak Alfa pada gelar dan kesuksesan, berimbas pada nama-nama tokoh yang ia sematkan pada nama anak-anaknya. Mungkin agak janggal di Indonesia, jika ada orang bernama Sir Issac Newton. Tapi menjadi biasa malah cenderung kocak, ketika nama penemu Gravitasi tersebut diplesetkan menjadi Uton, atau Albert Einstein menjadi Eten. Dee memang jenius sekaligus jenaka dalam pemberian nama tokoh.

Merantau yang menjadi ciri khas pada hampir setiap suku di Indonesia, tak lepas dari kisah hidup Alfa. Bekerja keras dan mencoba peruntungan di daerah lain, atau bahkan negara lain. Di singgung pula tentang kehidupan keras kawanan gangster Hoboken yang terus berperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan. Juga tempat yang dijadikan persinggahan banyak keluarga imigran gelap, yang malah lebih mengkhawatirkan inspeksi petugas imigrasi ketimbang polisi narkotik.

Hingga pada Alfa sukses mendapatkan beasiswa, menyelesaikan kuliahnya dan bekerja, alur cerita masih terasa kuat. Namun ketika memasuki pencarian tentang “keistimewaan menakutkan” yang dimiliki dirinya, yang menjadi poin utama buku ini malah terasa lemah.  Seperti kabut tipis yang menghalangi nikmatnya buku ini.

Baru pada saat keputusannya untuk pulang tiba-tiba ke Indonesia, alarm berdenyut yang memperingatkan tentang seseorang di pesawat. Entah itu Infiltran maupun Sarvara. Adalah penutup yang memberikan ketegangan seperti menonton film 'thriller’ di bioskop.  Sayang hanya sebentar. Tak bisa ditemukan jawabannya, kecuali kita harus sabar menunggu buku selanjutnya.

Namun di antara semua kehidupan yang dijalani Alfa, terutama ketika di Amerika. Saya malah tertarik pada biji Andaliman, yang harus pertama kali diselamatkan oleh orang Batak  ketika ada kebakaran maupun bencana alam di tanah perantauan. Sekalipun itu tinggal segenggam saja. Jujur, saya jadi penasaran dengan biji ini. Yang bentuknya menyerupai merica hitam, dan konon dapat menyulap semua makanan menjadi masakan Batak. (hlm 146)

Bisa segitunya orang Batak melindungi biji Andaliman dengan nyawanya? Wow!

Banyak ungkapan, maupun dialog dalam Bahasa Inggris pada buku ini. Namun Dee memlih untuk tidak menerjemahkannya. Mungkin menimbang bahwa bahasa tersebut sudah bukan bahasa baru lagi yang harus diterjemahkan satu persatu, juga menganggap tingkat intelektualitas pembacanya sudah mampu memahami secara tekstual. Catatan-catatan kaki yang juga sangat membantu memahami istilah medis, bahasa “slank” ala New Yorker, selipan bahasa daerah Batak maupun bahasa-bahasa negara lain. Seakan-akan menguatkan bahwa buku ini benar-benar dibuat serius, tidak setengah-setengah.

www.deelestari.com

Surat untuk Alfa Sagala



Judul : Supernova: Gelombang

Penulis : Dewi ‘dee’ Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun terbit : Oktober 2014

Jumlah halaman : 492 halaman

ISBN : 978-602-291-057-2


Selamat pagi. Selamat siang. Selamat malam, Alfa –di mana pun engkau berada.

Alfa, sejujurnya aku benci. Benci sekali. Aku benci untuk membuat sebuah review dari kisahmu. Maka, pada akhirnya pun kupustuskan untuk membuat surat pendek untukmu saja.

Alfa, bukannya (aku) sok objektif, namun rasanya sulit sekali untuk menghilangkan subjektivisme, bahkan hanya untuk menulis surat ini kepadamu. Membaca kisahmu membuat sisi kritisku mati. Aku tak bisa menghidupkan kesadaranku. Dan pada akhirnya, aku pun hanya mampu membiarkan diriku terseret ke dalam alur yang menenggelamkan.

Alfa, harus kuakui bahwa kisahmu sungguh digarap dengan lebih matang ketimbang dibanding kisah saudara-saudaramu yang lain –tapi tetap, sejauh ini aku masih tetap penasaran dengan kisah tentang saudaramu yang lain, si Partikel. Kau dibuat dari proses riset yang tentunya membutuhkan kesabaran yang tak semua orang punya. Satu yang selalu aku suka dari si penulis ceritamu adalah bahwa dalam setiap tulisannya, akhir cerita selalu saja tak tertebak. Dan lagi, jika biasanya yang ‘dijual’ pada kisah-kisah cerita yang lain adalah ending atau konflik atau alur. Maka, harus kutegaskan bahwa kisahmu menjual ketiga elemen tersebut.

Alurmu termainkan dengan cukup baik. Terlampau baik bahkan sesungguhnya. Porsinya sangat pas. Sejujurnya, Alfa, aku sempat mengkhawatirkan akan akhir ceritamu. Sebab, sampai dengan setengah halaman kubaca, aku masih belum menemukan kisah berlatarkan Tibet itu. Aku sempat takut pada akhirnya eksekusi pada puncak konflik akan terkesan terburu-buru. Namun, dugaanku salah besar, Alfa. Ah, aku merasa bodoh karena sempat meragukan kisahmu.

Alfa, selain itu aku juga sangat menyukai logo #Gelombang-mu. Entahlah, tak ada alasan pasti mengapa aku begitu menyukainya. Dan aku pun tak mau pusing-pusing mencari tahu alasannya. Namun, Alfa, ada sebuah pertanyaan yang kemudian mengganggu pikiranku. Mengapa logo #Gelombang-mu diberi warna orange dan bukannya biru? Iya, meski kutahu warna biru telah terpakai untuk saudaramu.

Alfa, rasanya tak perlulah aku menulis lebih panjang lagi dari ini. Sebab, hal tersebut memanglah tak diperlukan. Terakhir saja untuk mu, Alfa. Tolong sampaikan salam hangat dariku untuk penulismu, Ibu Suri. Sampaikan juga padanya, bahwa aku di sini sedang gundah menanti kehadiran saudaramu yang terakhir, Intelegensi Embun Pagi.

www.deelestari.com

Gelombang

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang

Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan

Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta

Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya

Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua

Mencecapmu lewat mimpi

Terjauh yang sanggup kujalani

Meski hanya satu malam dari ribuan malam

Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku

Sekali mengenalimu menjadi tujuan hidupku

Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau

Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita

Engkau membuatku putus asa dan mencinta

Pada saat yang sama

www.deelestari.com

Selasa, 31 Maret 2015

Supernova Ksatria dan Bintang Jatuh


"Ajarkan aku menjadi naif
senaif dirimu yang masih bisa tertawa
senaif kebahagiaan di alam kita berdua
karena di setiap detik..
dikala kenyataan mulai bersinggungan..
kurasakan sakit yang nyaris tak tertahankan
Atau..
Ajarkan aku menjadi penipu!
bila kau merasakan sakit itu didalam tawamu."
 Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah.... Ada. Terus bergerak, berekspansi, ber-evolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadibatu di arus ini, yang menginginkan kepastian atau pun ramalan masa depan, karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi. (Keping 1 – Yang Ada Hanyalah ADA)

Manusia bermimpi tidak hanya waktu ia tidur. Mimpi merupakan bentuk lain dari kreativitas. Menjadi kreatif itu tidak mengenal siang atau malam. Ada banyak pekerjaan yang masih punya ruang untuk inspirasi, tapi banyak juga pekerjaan yang menyita segalanya. Pekerjaan tanpa mimpi, atau tanpa waktu untuk bermimpi, adalah pekerjaan robot. Bukan manusia – Rana (Keping 2 – Ksatria)

Tidakkah ada yang melihat? Betapa ketulusan bisa menjadi teramat konyol. Hasrat yang berlebih tanpa persiapan bisa berakibat fatal. Percaya membabi-buta pada pihak asing bisa jadi senjata makan tuan. Strategi. Kemandirian. Itu dia kuncinya – Supernova (Keping 2 – Ksatria)



Hidup memang aneh. Banyak penjelasan di dalam ketidakjelasannya. (Keping 2 – Ksatria)

Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa. (Keping 4 – Puteri)

Cinta tidak membebaskan. Konsep itu memang utopis. Cinta itu tirani. Ia membelenggu. Menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan. (Keping 9 – Cinta Tidak Butuh Tali)

Manusia yang hidup tahu bahwa ketidak sabaran hanya akan membuatnya merencanakan masa depan secara tidak alami. Menjadikan detik-detik berharga tadi usang, lalu menghabiskan hidup mereka untuk menghiasi keusangan itu dengan paksa, menjadikannya seperti kain perca, Buruk, tak berguna, sekaligus sudah terlalu berat untuk ditanggalkan – Diva (Keping 12 – Un Sol Em Noite)

Manusia tidak diciptakan untuk terikat pada apa pun. Jangan pernah takut dengan kebebasan. Jangan pernah juga memanipulasi kebebasan. Buat semua detik baru, dan berarti – Diva (Keping 12 – Un Sol Em Noite)



Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini? – Dhimas
Sebesar cinta itu sendiri – Ruben (Keping 14 – Sebesar Cinta Itu Sendiri)

Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan, Puteri. Darah adalah darah. Dan tangis adalah tangis. Tidak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu – Ferre (Keping 15 – Ia Sedang Kasmaran)

Manusia memang seolah didesain untuk menunaikan satu misi : mencari tahu asal usul mereka. Demi kembali merasakan keutuhan itu – yang niscaya akan membuat mereka berhenti merasa kecil dan teralienasi di tengah megahnya jagat raya – Supernova (Keping 18 – Cyber Avatar)

Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bertingkah seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Apa yang Anda butuhkan semuanya sudah tersedia – Supernova (Keping 18 – Cyber Avatar)



Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh. Tidak ada sesuatu pun dapat mengisi apa yang sudah penuh. Tidak ada satu pun yang dapat berpisah satu sama lain – Supernova (Keping 18 – Cyber Avatar)

Konflik baru berakhir ketika Anda berada di titik nol. Dengan demikian Anda akan melihat kubu-kubu sekitar Anda tanpa menjadi objek permainannya. Hidup yang serba keras ini dapat seketika menjadi taman bermain – Supernova (Keping 31 – Jaring Laba-laba)

(Degup jantung, embusan nafas. Harmoni tanpa not) Itulah rima dari puisi yang tak pernah habis : Hidup. Dan bila jantung berhenti? Puisi adalah roh bertabir kata. Roh itu, tak pernah mati. Tak pernah pergi? Ia segalanya. Harus pergi ke mana lagi? segalanya ada padamu. (Keping 32 – Individu Hanyalah ilusi)

www.deelestari.com

Sabtu, 21 Maret 2015

Surat Tak Pernah Sampai



Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin bercerita pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam... tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu secara perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebalah darimu percaya bahwa setetes air matapun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala... dan itulah tujuan kalian.

Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik saja, maka... tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membantu untuk itu.
Tapi, hidup ini cari. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memiliki diam, memaksa kita untuk mengkuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.
Kamu takut.
Kamu takut karena ingin jujur.  Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan  yang tampak padat berisi tapi ketika di sentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanm untuk sering mensejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai sang Kekasih impian. Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang tidak boleh sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk pernajalan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama baru kamu menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh di pelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran  dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan Cuma maskot untuk disembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini,
Hingga akhirnya...

Dimeja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga Cuma kamulah yang tersiksa?)

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya. Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hanya uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena kehabisan daya.


Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebalikanya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

Kamupun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang akhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tanganmu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin suatu saat, apabila sekelimut dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruahn ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas,, bintang selatan... yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.....!


Jumat, 20 Maret 2015

Spasi

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling sayang menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak akan mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkanlah aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring bukan digiring.
www.deelestari.com 

Kamis, 19 Maret 2015

Agen Neptunus: Cinta Tak Bertuan

Agen Neptunus: Cinta Tak Bertuan

Vegetus Libertas


Keengganan umum menjadi vegetarian antara lain enggan jadi repot dan terbatas. Di dunia mayoritas omnivora ini, seorang vegetarian yang bepergian harus dari jauh hari memesan menu khusus ke maskapai penerbangan. Saya harus memberitahu tante saya yang mengadakan hajatan, supaya ia tidak kecewa jika sambal goreng atinya tidak disentuh. Setiap ke luar kota, survei kecil yang selalu saya lakukan adalah mencari restoran vegetarian. Sebagai vegetarian pemula yang masih beradaptasi, saya sering merenung: apakah ini keterbatasan, atau tantangan? Keterbatasan adalah gagal menemukan makanan vegetarian, lalu dengan hati masygul makan nasi pakai sayur dan sambal tok, sesekali melirik iri piring teman-teman yang berlimpahkan lauk-pauk. Apalagi baru jadi vegetarian beberapa bulan, segala rasa daging masih kuat bercokol di memori. Saya tahu persis, bahkan lidah ini seperti masih bisa mengecap tanpa perlu mengunyah, rasa ayam bakar, sop buntut, gule kambing, babi kecap, udang goreng mentega.

Tantangan adalah menghadapi situasi dan piring yang sama dengan penuh kemenangan. Dan demikianlah upaya saya menyikapi hidup vegetaris. Menjadi vegetarian adalah tantangan dalam satuan hari. Besok adalah tantangan baru, dan seterusnya. Tantangan mengubah persepsi keterbatasan menjadi permainan seru yang dengan serius menantang saya untuk terus menggali etika bermanusia dalam konteks realitas hari ini. Tantangan saya artikan sebagai pembatasan, dan itu tidak sama dengan keterbatasan. Pembatasan adalah kesadaran aktif untuk mengurangi pilihan yang tak perlu.  Sejak dulu, saya paling tidak tahan berada di belakang truk yang mengangkut hewan. Entah itu sapi, ayam, kambing, atau babi.

Cepat-cepat saya susul, atau terpaksa terus memalingkan muka. Namun tampang memelas mereka tidak seberapa dibanding kontradiksi yang menyerang saya: saya iba, tapi lewat industri makanan, saya masih membunuhi mereka. Hingga kini rasa iba itu tidak hilang. Namun kontradiksi itu lenyap sudah. Dan saya merasakan kebebasan. Sebulan belakangan ini saya juga menyadari sesuatu, daerah rambahan saya di supermarket menjadi lebih sempit. Saya akan berjalan melewati jajaran panjang aneka daging segar, mengabaikan rak-rak berisi sosis, kornet, dan hanya mampir di bagian sayur, buah, serta rak pendingin tempatnya tahu dan tempe.

Kadang saya menoleh ke belakang, melihat banyaknya pilihan yang saya lewati, dan lucunya, saya justru merasa lebih bebas. Berapa banyak pilihan yang sebenarnya sanggup kita tangani? Sering juga saya renungi itu. Ketika seseorang memiliki enam mobil, dua ratus potong baju, lima puluh sepatu, adakah itu membebaskan? Saya selalu merasa ada batas tegas antara butuh dan koleksi. Ketika batas kebutuhan dilampaui hingga memasuki tahap koleksi, maka angka berapapun tak akan pernah cukup. Ketika makanan bukan lagi sarana untuk keberlangsungan hidup, tapi ajang koleksi kenikmatan indrawi, seluruh hewan di Bumi tidak akan pernah cukup.

Refleks kita pasti menangkis 'apa salahnya?', 'kalau ada uangnya kenapa tidak?'. Percayalah, saya pun masih menyimpan refleks yang sama. Gen primordial kita sebagai ras yang pernah berjuang antara hidup dan mati demi tidak kelaparan akan selalu mendorong kita untuk sebanyak-banyaknya menumpuk lemak dan protein. Adalah tantangan untuk mengubah refleks primordial dengan sistem akal budi berbasiskan realitas baru, bahwa dunia hari ini sudah punya cukup teknologi untuk kita bisa bergizi tanpa membunuh hewan secara massal, dan dunia hari ini mengalami krisis karena banyak manusia sibuk menggemukkan hewan ternaknya dan lupa bahwa manusia lain kelaparan, bahwa dibutuhkan sepuluh kilo tumbuhan bergizi untuk menghasilkan satu kilo daging. Amati kehidupan kita sendiri: apakah pola konsumsi kita masih dalam koridor butuh, atau sudah koleksi? Setelah itu, barulah lihat kehidupan sekitar kita, dan simpulkan dengan akal sehat: apakah masih etis untuk menerapkan pola koleksi? Jika tidak, sesuatu pasti bisa kita upayakan untuk mengurangi berlebihnya pilihan, membiarkan mereka yang betulan terbatas untuk melangsungkan hidup dengan jumlah pilihan yang layak. Jumlah yang perlu kita bagi. Di sebuah food court dengan puluhan stand, saya memilih satu: stand nasi pecel dan gado-gado. Teman saya berkomentar: 'Kasihan kamu, makannya cuma bisa itu.' Padahal, meski pesan menu lain, ia juga sama-sama makan satu piring. Jika ada food haven yang menyediakan ribuan stand sekalipun, setiap pengunjung pada akhirnya memilih satu. Malamnya, ketika iseng buka-buka kamus Bahasa Latin (salah satu hobi saya memang mengoprek kamus), saya menemukan sebuah frase: Vegetus libertas. Artinya, hidup yang menguatkan budi.

Saya jadi teringat makan siang tadi. Di food court itu, tanpa disadari, saya telah bertemu kebebasan dalam pembatasan. Hidup yang berbudi ternyata dapat dihikmati melalui sepiring nasi pecel.
http://deelestari.com/id/

Sinkronisitas


Sebut saja inisial pacar saya DL. Buntut nomor ponsel saya 7929. Setelah tidak ada kontak selama berhari-hari, satu malam saya tercenung di tempat parkir. Mata saya tahu-tahu tertumbuk pada satu plat mobil: B 7929 DL. Saya langsung yakin, malam ini saya pasti dapat kabar darinya. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit, ponsel saya berbunyi. Satu hari, saya membaca sebuah buku dalam perjalanan mobil. Buku yang sangat menggugah itu rupanya terserap begitu intens sehingga mungkin ada satu jendela sensitivitas saya yang terbuka.

Ketika saya membaca sebuah bab yang membahas perihal arti nama, mendadak saya terdorong untuk mendongak, hanya untuk mendapatkan sebuah truk pasir di depan saya yang bertuliskan besar-besar: 'Arti Sebuah Nama'. Saya pun termenung lagi. Apakah arti semua ini? Terlalu naif kalau saya sebut kebetulan. Rasa-rasanya semesta sedang bergerak bersama dengan pikiran. Memberi konfirmasi untuk sesuatu yang dianggapnya berguna. Sekalipun konfirmasinya diberikan melalui hal seremeh tulisan pada truk atau nomor plat mobil, tapi bisa jadi itu menjadi jalan menuju wawasan yang lebih dalam. Sinkronisitas dapat diartikan sebagai kebetulan-kebetulan yang bermakna.

Bahkan istilah 'kebetulan' pun tidak lagi sufisien, karena pada level tertentu tidak ada satu hal pun yang kebetulan atau insidental. Semua punya makna. Semua berinterelasi dalam satu maha rencana. Sinkronisitas adalah proses dialogis, sebuah pola komunikasi dari 'tali pusar' yang menghubungkan semua pikiran, perasaan, sains dan seni dalam rahim semesta, yang kemudian melahirkan semuanya ke dalam realitas ini. Itulah yang membedakan sinkronisitas dengan kebetulan belaka, yaitu makna inheren yang terkandung di balik segala peristiwa tadi. Sinkronisitas menunjukkan ada satu nuansa makna yang kaya, bahkan dalam hal paling insignifikan sekalipun andaikan kita mau lebih sensitif menelaahnya. Realitas yang kita geluti sehari-hari adalah realitas dualistis yang senantiasa melihat segalanya dalam dikotomi: terang-gelap, benar-salah, tinggi-rendah, dan seterusnya.

Boleh dibilang, begitulah cara kerja alamiah pikiran kita. Sehingga otomatis segalanya menjadi linear, cause and effect. Saya begini karena kamu begitu. Saya jadi begini karena kemarin saya berbuat begitu. Siapa yang menabur, dia akan menuai. Namun sinkronisitas memberikan alternatif pikir lain, bahwa dengan sudut pandang yang lebih tinggi, semesta tidak lagi berbicara dalam bahasa sebab-akibat. Semesta bukan garis lurus yang punya awal dan akhir. Melainkan sebuah lingkaran tak terputus yang terus berekspansi. Segalanya ternyata sinkronis. Atau bisa diartikan, semesta bergerak dalam satu gerakan tunggal. Namun sayangnya, paham reduksionis yang mendominasi dunia sains cenderung membawa sudut pandang dunia dari mulai level sosial ekonomi hingga budaya untuk mereduksi sinkronisitas menjadi fragmen-fragmen yang tak terperhatikan. Kausalitas, masih memiliki efek hipnotis kuat yang membawa kita untuk terus menerus berusaha menguasai kehidupan dengan cara memecah-belahnya menjadi bagian-bagian kecil yang bisa dianalisis dalam kontrol penuh.

Saya ingin mengambil satu contoh, yakni permainan tenis. Dalam sudut pandang yang kausal, permainan tersebut begitu sederhana, sekadar perjalanan sebuah bola yang dipukul bolak-balik. Setiap pukulan adalah hasil kontraksi otot lengan pemainnya. Info posisi inisial maupun kecepatan setiap pukulan menjadikan lintasan bola itu terukur dan terhitung. Namun, ada daya lain yang ikut memberi pengaruh yakni gravitasi. Dan gravitasi beroperasi pada keseluruhan ruang si bola, bukan pada gerakan inisialnya saja. Sementara menurut Einstein, gravitasi adalah gerakan ruang-waktu yang melengkung, sehingga apabila didesak sampai batasnya, kausalitas yang terjadi harus melibatkan lintasan bulan, planet dan bintang, bahkan massa orang yang lalu lalang di lapangan tenis itu.

Dengan kata lain, seluruh elemen semesta punya peran dalam menentukan lintasan bola tenis tadi. Maka tidak berlebihan kalau Edward Lorenz berkata bahwa kepakan kupu-kupu di Hongkong dapat mengakibatkan badai besar di New York. Rantai sebab-akibat tersebut dapat dilihat juga sebagai network atau jaringan. Semakin lebar batasan satu masalah ditarik maka semakin nyata rengkuhannya yang meliputi seluruh dunia, tata surya, bahkan semesta. Segalanya mengakibatkan segalanya. Setiap dari kita pastinya pernah mengalami sinkronisitas, betapapun remeh kejadiannya, baik disadari atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sinkronisitas biasanya baru terasa pada titik kritis kehidupan seseorang, yang bisa diinterpretasikan sebagai bibit perkembangan orang itu pada masa yang akan datang. Ada juga yang melihatnya sebagai konfirmasi bahwa kita berjalan di jalur yang 'tepat'.

Namun saya juga ingin menambahkan bahwa sinkronisitas adalah dialog yang terjadi antara diri kita dan Diri, dan satu bukti bahwa pada satu level kita semua adalah satu. Bibit pemecah-belah yang terjadi di segala aspek kehidupan adalah imbas dari cara pandang yang reduksioner, sehingga 'power' adalah sesuatu yang perlu diperebutkan dan bukan dibagi. Cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan bukannya tumbuh alami. Simbiosa antarmakhluk dilihat sebagai kompetisi antara yang lemah dan kuat. Kita menghakimi orang-orang dengan mengategorikannya sebagai 'winner' dan 'looser' . Dan cara pandang ini adalah warisan ratusan bahkan ribuan tahun.

Sinkronisitas adalah sudut pandang alternatif yang memungkinkan kita untuk melihat realitas yang sama sekali lain. Dan tentu saja, itu akan membawa perubahan perilaku dan sikap. Bukti dampak pandangan reduksionisme pada dunia rasanya tidak perlu kita perdebatkan: perang yang tak kunjung punah, separuh dunia yang masih kelaparan, dan derita yang dimulai dari level global sampai interaksi antara dua kekasih. Semua karena pemisahan, pengotak-kotakkan, yang melampaui batas fungsi yang sesungguhnya. Mungkin inilah saatnya kita mempertaruhkan kenyamanan sudut pandang lama kita dengan sesuatu yang baru. Merengkuh sinkronisitas dan terbang bersamanya.
http://deelestari.com/id/

Satu Orang Satu Pohon



Ada yang tidak beres dalam perjalanan saya menuju Jakarta. Di sepanjang jalan menuju gerbang tol Pasteur, saya melihat pokok-pokok palem dalam kondisi terpotong-potong, tersusun rapi di sanasini, apakah ini jualan khas Bandung yang paling baru? Sayup, mulai terdengar bunyi mesin gergaji. Barulah saya tersadar. Sedang dilakukan penebangan pohon rupanya. Dari diameter batangnya, saya tahu pohon-pohon itu bukan anak kemarin sore. Mungkin umurnya lebih tua atau seumur saya. Pohon palem memang pernah jadi hallmark Jalan Pasteur, tapi tidak lagi. Setidaknya sejak hari itu.

Hallmark Pasteur hari ini adalah jalan layang, Giant, BTC, Grand Aquila, dan kemacetan luar biasa. Bukan yang pertama kali penebangan besar-besaran atas pohon-pohon besar dilakukan di kota kita. Seribu bibit jengkol pernah dipancangkan sebagai tanda protes saat pohon-pohon raksasa di Jalan Prabudimuntur habis ditebangi. Jalan Suci yang dulu teduh juga sekarang gersang. Kita menjerit sekaligus tak berdaya. Bukankah harus ada harga yang dibayar demi pembangunan dan kemakmuran Bandung? Demi jumlah penduduknya yang membuncah? Demi kendaraan yang terus membeludak? Demi mobil plat asing yang menggelontori jalanan setiap akhir pekan? Beda dengan sebagian warganya, pohon tidak akan protes sekalipun ratusan tahun hidupnya disudahi dalam tempo sepekan.

Pastinya lebih mudah menebang pohon daripada menyumpal mulut orang.  Seorang arsitek legendaris Bandung pernah berkata, lebih baik ia memeras otak untuk mendesain sesuai kondisi alam ketimbang harus menebang satu pohon saja, karena bangunan dapat dibangun dan diruntuhkan dalam sekejap, tapi pohon membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh sama besar. Sayangnya, pembangunan kota ini tidak dilakukan dengan paham yang sama.

Para pemimpin dan perencana kota ini lupa, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan kemakmuran dadakan dan musiman, melainkan usaha panjang dan menyicil agar kota ini punya lifetime sustainability sebagai tempat hidup yang layak dan sehat bagi penghuninya. Bandung pernah mengeluh kekurangan 650.000 pohon, tapi di tangannya tergenggam gergaji yang terus menebang. Tidakkah ini aneh? Tak heran, rakyat makin seenaknya, yang penting dagang dan makmur. Bukankah itu contoh yang mereka dapat? Yang penting proyek 'basah' dan kocek tambah tebal. Proyek hijau mana ada duitnya, malah keluar duit. Lebih baik ACC pembuatan mall atau trade centre. Menjadi kota metropolis seolah-olah pilihan tunggal. Kita tidak sanggup berhenti sejenak dan berpikir, adakah identitas lain, yang mungkin lebih baik dan lebih bijak, dari sekadar menjadi metropolitan baru? Saya percaya perubahan bisa dilakukan dari rumah sendiri, tanpa harus tunggu siapa-siapa. Jika kita percaya dan prihatin Bandung kekurangan pohon, berbuatlah sesuatu. Kita bisa mulai dengan Gerakan Satu Orang Satu Pohon.

Hitung jumlah penghuni rumah Anda dan tanamlah pohon sebanyak itu. Tak adanya pekarangan bukan masalah, kita bisa pakai pot, ember bekas, dsb. Mereka yang punya lahan lebih bisa menanam jumlah yang lebih juga. Anggaplah itu sebagai amal baik Anda bagi mereka yang tak bisa atau tak mau menanam. Pesan moralnya sederhana, kita bertanggung jawab atas suplai oksigen masing-masing. Jika pemerintah kota ini tak bisa memberi kita paru-paru kota yang layak, tak mampu membangun tanpa menebang pohon, mari perkaya oksigen kita dengan menanam sendiri.

Ajarkan ini kepada anak-anak kita. Tumbuhkan sentimen mereka pada kehidupan hijau. Bukan saja anak kucing yang bisa jadi peliharaan lucu, mereka juga bisa punya pohon peliharaan yang terus menemani mereka hingga jadi orangtua. Mertua saya punya impian itu. Di depan rumah yang baru kami huni, ia menanam puluhan tanaman kopi. Beliau berharap cucunya kelak akan melihat cantiknya pohon kopi, dengan atau tanpa dirinya. Sentimen sederhananya tidak hanya membantu merimbunkan Bukit Ligar yang gersang, ia juga telah membuat hallmark memori, antara dia dan cucunya, lewat pohon kopi. Kota ini boleh jadi amnesia. Demi wajahnya yang baru (dan tak cantik), Bandung memutus hubungan dengan sekian ratus pohon yang menyimpan tak terhitung banyaknya memori. Kota ini boleh jadi menggersang. Jumlah taman bisa dihitung jari, kondisinya tak menarik pula. Namun mereka yang hidup di kota ini bisa memilih bangun dan tak ikut amnesia. Hati mereka bisa dijaga agar tidak ikut gersang.

Rumah kita masih bisa dirimbunkan dengan pohon dan aneka tanaman. Besok, atau lusa, siapa tahu? Bandung tak hanya beroleh 650.000 pohon baru, melainkan jutaan pohon dari warganya yang tidak memilih diam.