Pages - Menu

Minggu, 12 April 2015

Diterpa ‘Gelombang'


Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin ‘nambah’ sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan’. Atau paling tidak, 'bersabar’ dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir’.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tan Diterpa ‘Gelombang’
Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin ‘nambah’ sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan’. Atau paling tidak, 'bersabar’ dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir’.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tanpa kekhawatiran akan ada yang membunuh kita sebelum terbangun?

Itulah alasan, mengapa Alfa mengiyakan pekerjaan yang membuatnya selalu terjaga. Di luar ia ingin membayar hutang Bapaknya pada saat mengirimnya ke Amerika, atau mewujudkan impian Amanguda  Hoboken untuk pulang ke Indonesia bertemu pohon Andaliman serta memakamkan abu Inangudanya.

Obsesi Bapak Alfa pada gelar dan kesuksesan, berimbas pada nama-nama tokoh yang ia sematkan pada nama anak-anaknya. Mungkin agak janggal di Indonesia, jika ada orang bernama Sir Issac Newton. Tapi menjadi biasa malah cenderung kocak, ketika nama penemu Gravitasi tersebut diplesetkan menjadi Uton, atau Albert Einstein menjadi Eten. Dee memang jenius sekaligus jenaka dalam pemberian nama tokoh.

Merantau yang menjadi ciri khas pada hampir setiap suku di Indonesia, tak lepas dari kisah hidup Alfa. Bekerja keras dan mencoba peruntungan di daerah lain, atau bahkan negara lain. Di singgung pula tentang kehidupan keras kawanan gangster Hoboken yang terus berperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan. Juga tempat yang dijadikan persinggahan banyak keluarga imigran gelap, yang malah lebih mengkhawatirkan inspeksi petugas imigrasi ketimbang polisi narkotik.

Hingga pada Alfa sukses mendapatkan beasiswa, menyelesaikan kuliahnya dan bekerja, alur cerita masih terasa kuat. Namun ketika memasuki pencarian tentang “keistimewaan menakutkan” yang dimiliki dirinya, yang menjadi poin utama buku ini malah terasa lemah.  Seperti kabut tipis yang menghalangi nikmatnya buku ini.

Baru pada saat keputusannya untuk pulang tiba-tiba ke Indonesia, alarm berdenyut yang memperingatkan tentang seseorang di pesawat. Entah itu Infiltran maupun Sarvara. Adalah penutup yang memberikan ketegangan seperti menonton film 'thriller’ di bioskop.  Sayang hanya sebentar. Tak bisa ditemukan jawabannya, kecuali kita harus sabar menunggu buku selanjutnya.

Namun di antara semua kehidupan yang dijalani Alfa, terutama ketika di Amerika. Saya malah tertarik pada biji Andaliman, yang harus pertama kali diselamatkan oleh orang Batak  ketika ada kebakaran maupun bencana alam di tanah perantauan. Sekalipun itu tinggal segenggam saja. Jujur, saya jadi penasaran dengan biji ini. Yang bentuknya menyerupai merica hitam, dan konon dapat menyulap semua makanan menjadi masakan Batak. (hlm 146)

Bisa segitunya orang Batak melindungi biji Andaliman dengan nyawanya? Wow!

Banyak ungkapan, maupun dialog dalam Bahasa Inggris pada buku ini. Namun Dee memlih untuk tidak menerjemahkannya. Mungkin menimbang bahwa bahasa tersebut sudah bukan bahasa baru lagi yang harus diterjemahkan satu persatu, juga menganggap tingkat intelektualitas pembacanya sudah mampu memahami secara tekstual. Catatan-catatan kaki yang juga sangat membantu memahami istilah medis, bahasa “slank” ala New Yorker, selipan bahasa daerah Batak maupun bahasa-bahasa negara lain. Seakan-akan menguatkan bahwa buku ini benar-benar dibuat serius, tidak setengah-setengah.

www.deelestari.com

Surat untuk Alfa Sagala



Judul : Supernova: Gelombang

Penulis : Dewi ‘dee’ Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun terbit : Oktober 2014

Jumlah halaman : 492 halaman

ISBN : 978-602-291-057-2


Selamat pagi. Selamat siang. Selamat malam, Alfa –di mana pun engkau berada.

Alfa, sejujurnya aku benci. Benci sekali. Aku benci untuk membuat sebuah review dari kisahmu. Maka, pada akhirnya pun kupustuskan untuk membuat surat pendek untukmu saja.

Alfa, bukannya (aku) sok objektif, namun rasanya sulit sekali untuk menghilangkan subjektivisme, bahkan hanya untuk menulis surat ini kepadamu. Membaca kisahmu membuat sisi kritisku mati. Aku tak bisa menghidupkan kesadaranku. Dan pada akhirnya, aku pun hanya mampu membiarkan diriku terseret ke dalam alur yang menenggelamkan.

Alfa, harus kuakui bahwa kisahmu sungguh digarap dengan lebih matang ketimbang dibanding kisah saudara-saudaramu yang lain –tapi tetap, sejauh ini aku masih tetap penasaran dengan kisah tentang saudaramu yang lain, si Partikel. Kau dibuat dari proses riset yang tentunya membutuhkan kesabaran yang tak semua orang punya. Satu yang selalu aku suka dari si penulis ceritamu adalah bahwa dalam setiap tulisannya, akhir cerita selalu saja tak tertebak. Dan lagi, jika biasanya yang ‘dijual’ pada kisah-kisah cerita yang lain adalah ending atau konflik atau alur. Maka, harus kutegaskan bahwa kisahmu menjual ketiga elemen tersebut.

Alurmu termainkan dengan cukup baik. Terlampau baik bahkan sesungguhnya. Porsinya sangat pas. Sejujurnya, Alfa, aku sempat mengkhawatirkan akan akhir ceritamu. Sebab, sampai dengan setengah halaman kubaca, aku masih belum menemukan kisah berlatarkan Tibet itu. Aku sempat takut pada akhirnya eksekusi pada puncak konflik akan terkesan terburu-buru. Namun, dugaanku salah besar, Alfa. Ah, aku merasa bodoh karena sempat meragukan kisahmu.

Alfa, selain itu aku juga sangat menyukai logo #Gelombang-mu. Entahlah, tak ada alasan pasti mengapa aku begitu menyukainya. Dan aku pun tak mau pusing-pusing mencari tahu alasannya. Namun, Alfa, ada sebuah pertanyaan yang kemudian mengganggu pikiranku. Mengapa logo #Gelombang-mu diberi warna orange dan bukannya biru? Iya, meski kutahu warna biru telah terpakai untuk saudaramu.

Alfa, rasanya tak perlulah aku menulis lebih panjang lagi dari ini. Sebab, hal tersebut memanglah tak diperlukan. Terakhir saja untuk mu, Alfa. Tolong sampaikan salam hangat dariku untuk penulismu, Ibu Suri. Sampaikan juga padanya, bahwa aku di sini sedang gundah menanti kehadiran saudaramu yang terakhir, Intelegensi Embun Pagi.

www.deelestari.com

Gelombang

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang

Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan

Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta

Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya

Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua

Mencecapmu lewat mimpi

Terjauh yang sanggup kujalani

Meski hanya satu malam dari ribuan malam

Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku

Sekali mengenalimu menjadi tujuan hidupku

Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau

Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita

Engkau membuatku putus asa dan mencinta

Pada saat yang sama

www.deelestari.com

Selasa, 31 Maret 2015

Supernova Ksatria dan Bintang Jatuh


"Ajarkan aku menjadi naif
senaif dirimu yang masih bisa tertawa
senaif kebahagiaan di alam kita berdua
karena di setiap detik..
dikala kenyataan mulai bersinggungan..
kurasakan sakit yang nyaris tak tertahankan
Atau..
Ajarkan aku menjadi penipu!
bila kau merasakan sakit itu didalam tawamu."
 Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah.... Ada. Terus bergerak, berekspansi, ber-evolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadibatu di arus ini, yang menginginkan kepastian atau pun ramalan masa depan, karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi. (Keping 1 – Yang Ada Hanyalah ADA)

Manusia bermimpi tidak hanya waktu ia tidur. Mimpi merupakan bentuk lain dari kreativitas. Menjadi kreatif itu tidak mengenal siang atau malam. Ada banyak pekerjaan yang masih punya ruang untuk inspirasi, tapi banyak juga pekerjaan yang menyita segalanya. Pekerjaan tanpa mimpi, atau tanpa waktu untuk bermimpi, adalah pekerjaan robot. Bukan manusia – Rana (Keping 2 – Ksatria)

Tidakkah ada yang melihat? Betapa ketulusan bisa menjadi teramat konyol. Hasrat yang berlebih tanpa persiapan bisa berakibat fatal. Percaya membabi-buta pada pihak asing bisa jadi senjata makan tuan. Strategi. Kemandirian. Itu dia kuncinya – Supernova (Keping 2 – Ksatria)



Hidup memang aneh. Banyak penjelasan di dalam ketidakjelasannya. (Keping 2 – Ksatria)

Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa. (Keping 4 – Puteri)

Cinta tidak membebaskan. Konsep itu memang utopis. Cinta itu tirani. Ia membelenggu. Menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan. (Keping 9 – Cinta Tidak Butuh Tali)

Manusia yang hidup tahu bahwa ketidak sabaran hanya akan membuatnya merencanakan masa depan secara tidak alami. Menjadikan detik-detik berharga tadi usang, lalu menghabiskan hidup mereka untuk menghiasi keusangan itu dengan paksa, menjadikannya seperti kain perca, Buruk, tak berguna, sekaligus sudah terlalu berat untuk ditanggalkan – Diva (Keping 12 – Un Sol Em Noite)

Manusia tidak diciptakan untuk terikat pada apa pun. Jangan pernah takut dengan kebebasan. Jangan pernah juga memanipulasi kebebasan. Buat semua detik baru, dan berarti – Diva (Keping 12 – Un Sol Em Noite)



Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini? – Dhimas
Sebesar cinta itu sendiri – Ruben (Keping 14 – Sebesar Cinta Itu Sendiri)

Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan, Puteri. Darah adalah darah. Dan tangis adalah tangis. Tidak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu – Ferre (Keping 15 – Ia Sedang Kasmaran)

Manusia memang seolah didesain untuk menunaikan satu misi : mencari tahu asal usul mereka. Demi kembali merasakan keutuhan itu – yang niscaya akan membuat mereka berhenti merasa kecil dan teralienasi di tengah megahnya jagat raya – Supernova (Keping 18 – Cyber Avatar)

Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bertingkah seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Apa yang Anda butuhkan semuanya sudah tersedia – Supernova (Keping 18 – Cyber Avatar)



Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh. Tidak ada sesuatu pun dapat mengisi apa yang sudah penuh. Tidak ada satu pun yang dapat berpisah satu sama lain – Supernova (Keping 18 – Cyber Avatar)

Konflik baru berakhir ketika Anda berada di titik nol. Dengan demikian Anda akan melihat kubu-kubu sekitar Anda tanpa menjadi objek permainannya. Hidup yang serba keras ini dapat seketika menjadi taman bermain – Supernova (Keping 31 – Jaring Laba-laba)

(Degup jantung, embusan nafas. Harmoni tanpa not) Itulah rima dari puisi yang tak pernah habis : Hidup. Dan bila jantung berhenti? Puisi adalah roh bertabir kata. Roh itu, tak pernah mati. Tak pernah pergi? Ia segalanya. Harus pergi ke mana lagi? segalanya ada padamu. (Keping 32 – Individu Hanyalah ilusi)

www.deelestari.com

Sabtu, 21 Maret 2015

Surat Tak Pernah Sampai



Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin bercerita pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam... tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu secara perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebalah darimu percaya bahwa setetes air matapun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala... dan itulah tujuan kalian.

Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik saja, maka... tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membantu untuk itu.
Tapi, hidup ini cari. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memiliki diam, memaksa kita untuk mengkuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.
Kamu takut.
Kamu takut karena ingin jujur.  Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan  yang tampak padat berisi tapi ketika di sentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanm untuk sering mensejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai sang Kekasih impian. Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang tidak boleh sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk pernajalan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama baru kamu menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh di pelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran  dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan Cuma maskot untuk disembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini,
Hingga akhirnya...

Dimeja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga Cuma kamulah yang tersiksa?)

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya. Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hanya uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena kehabisan daya.


Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebalikanya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

Kamupun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang akhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tanganmu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin suatu saat, apabila sekelimut dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruahn ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas,, bintang selatan... yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.....!


Jumat, 20 Maret 2015

Spasi

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling sayang menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak akan mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkanlah aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring bukan digiring.
www.deelestari.com