Pages - Menu

Rabu, 05 Agustus 2015

Menderita oleh hati sendiri

Berat, memang berat untuk meninggalkan semua. Mereka yang kita sayangi, mereka yang selalu ada. Saya yakin dengan jalan yang saya ambil. Hati ini berkata inilah yang terbaik.
Bayangkan ketika seseorang merasa nyaman dekat anda dan anda sendiri merasakan hal yang sama. Tapi di tengah jalan hati anda berkata 'ayo lari, terus lari sampai kamu tau'. Kalau saja mereka tahu selama ini hati begitu menderita. Sakit, lebih sakit dari yang mereka rasakan.
Sangat kejam ketika saya melakukan itu kepada mereka semua. Seharusnya saya bisa ngelawan, tapi kenyataannya enggak bisa. Diam kayak orang goblok!!!
Sendiri? Itu kata yang tepat buat saya. Berjuang untuk mencari jawaban yang saya cari sendirian.
Saya harus bisa dan saya gak bisa nyakitin orang-orang yang saya sayangi.
Tuhan bantu saya tuk dapatkan jawaban itu, kasih petunjuk, pertanda yang bisa saya mengerti.
Tidak kah Engkau tahu sebegitunya menderita hati saya ?!!!!!

Senin, 18 Mei 2015

Benci dan benci

Aku Benci Jatuh Cinta..!!

Jika kamu adalah hujan yang hanya lewat sekejap lalu lenyap,
Jangan janjikan aku pelangi untuk melukis langitku,
Meski rinaimu menyejukkan,
Meski rindumu mengharukan,
Namun hujamanmu serupa rintik-rintiknya yang menerpa menampar tepat di wajahku,

Aku benci jatuh cinta........
Hanya karna sebuah rasa yang di namakan "takut kehilangan"
Hanya karna ada kekhawatiran bahwa suatu hari kau akan berhenti melakukan hal yang sama seperti yang Kamu lakukan disaat membuatku jatuh cinta.

Lalu, bagaimana aku bisa mengelak jika semua hal yang kau lakukan adalah sebuah upaya untuk mendekatkan kita?
Bagaimana aku bisa menghindar jika tak sedikitpun hariku terlewatkan tanpa melihat namamu menari indah dalam sebuah pesan di ponselku?
Bagaimana bisa aku menghempasmu, sementara yang bertiup di sekelilingku adalah angin yang membawamu untuk menuju ke hatimu?
Bagaimana ini, tolong kamu yang sudah membuatku jatuh cinta, katakan aku harus bagaimana..?

Aku benci jatuh cinta,
sekali lagi aku benci jatuh cinta!
jika perasaan ini hanya akan menjatuhkanku ke dalam luka yang lebih dalam nantinya....  

Kepada kamu, Dengan penuh kebencian



Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu..., tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, "Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common," harus dimentahkan oleh hati yang berkata, "Jangan hiraukan logikamu."

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan...

aku takut sendirian.

---

#terimakasihbangRAditya

Minggu, 17 Mei 2015

terbelenggu

Nus, semuanya benar kata keenan. Pikiran itu gak bisa mengerti hati!
Ajari saya menjadi naif senaif mungkin. saya berusaha menutupi apa yang di rasa, membelokkan semua yang di katakan oleh hati. hati bilang saya cinta dia dan harus di perjuangkan, tapi pikiran saya terus menyangkalnya. Apa yang bisa di perbuat sementara pikiran mengatakan kebenaran ' kamu tidak pantas untuk dia ' .
Hati saya terlalu pede untuk menyimpulkan perasaan ini.
Ikuti kata hati kamu karena apa yang di katakan hati selalu benar, tapi pikiran? Entahlah.....

Sabtu, 16 Mei 2015

harapan itu tetep ada

Tuhan, saya tidak tau apa yang saya rasain saat ini.
Apakah harapan yang selama saya cari ataukah ini harapan kosong?
Hati ini terasa bergejolak serasa hati sama pikiran lagi perang.
Hati sama pikiran memang gak bakal ketemu, karena pikiran gak bisa mengerti hati.
Hati gak bisa bohong tapi pikiran itu munafik, egois tingkat tinggi dan terus berusaha naif.
Dan pada akhirnya hati lah pemenangnya. Saya akui saya amat mencintai dia.
Ini bukan harapan kosong dan saya yakin dengan kata hati ini....

keegoisan bertahan dalam kesendirian

Sendiri ?
Menurut saya itu bukan masalah. Bukan juga nasib yang harus di ratapi, tapi sendiri itu pilihan...
Mungkin kita akan merasa kesepian. Memang benar!!
Akan ada dimana kita butuh seseorang untuk mengerti kita. Tapi orang selalu maksain sama orang yang tidak tepat, dan lahirlah rasa sakit itu.
Saat ini saya menemukan orang yang selama ini saya cari, buat saya nyaman dan tertawa lepas. Tapi saya tidak mau melepas hati ini untuk bebas. Saya tidak bisa meminta dia untuk mencitai saya.
Saya akui saya amat sayang dan menginginkan dia, tapi saya gak bisa. Saya terus coba untuk menahan perasaan ini. Karena saya tidak bisa membuat seseorang betah dan nyaman untuk waktu yang lama. Kekurangan dan keadaan saya yang membuat saya bertahan sendiri...

Saya cinta kamu sampai kapanpun. I just love you.....!!?

Minggu, 12 April 2015

Diterpa ‘Gelombang'


Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin ‘nambah’ sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan’. Atau paling tidak, 'bersabar’ dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir’.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tan Diterpa ‘Gelombang’
Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin ‘nambah’ sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan’. Atau paling tidak, 'bersabar’ dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir’.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tanpa kekhawatiran akan ada yang membunuh kita sebelum terbangun?

Itulah alasan, mengapa Alfa mengiyakan pekerjaan yang membuatnya selalu terjaga. Di luar ia ingin membayar hutang Bapaknya pada saat mengirimnya ke Amerika, atau mewujudkan impian Amanguda  Hoboken untuk pulang ke Indonesia bertemu pohon Andaliman serta memakamkan abu Inangudanya.

Obsesi Bapak Alfa pada gelar dan kesuksesan, berimbas pada nama-nama tokoh yang ia sematkan pada nama anak-anaknya. Mungkin agak janggal di Indonesia, jika ada orang bernama Sir Issac Newton. Tapi menjadi biasa malah cenderung kocak, ketika nama penemu Gravitasi tersebut diplesetkan menjadi Uton, atau Albert Einstein menjadi Eten. Dee memang jenius sekaligus jenaka dalam pemberian nama tokoh.

Merantau yang menjadi ciri khas pada hampir setiap suku di Indonesia, tak lepas dari kisah hidup Alfa. Bekerja keras dan mencoba peruntungan di daerah lain, atau bahkan negara lain. Di singgung pula tentang kehidupan keras kawanan gangster Hoboken yang terus berperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan. Juga tempat yang dijadikan persinggahan banyak keluarga imigran gelap, yang malah lebih mengkhawatirkan inspeksi petugas imigrasi ketimbang polisi narkotik.

Hingga pada Alfa sukses mendapatkan beasiswa, menyelesaikan kuliahnya dan bekerja, alur cerita masih terasa kuat. Namun ketika memasuki pencarian tentang “keistimewaan menakutkan” yang dimiliki dirinya, yang menjadi poin utama buku ini malah terasa lemah.  Seperti kabut tipis yang menghalangi nikmatnya buku ini.

Baru pada saat keputusannya untuk pulang tiba-tiba ke Indonesia, alarm berdenyut yang memperingatkan tentang seseorang di pesawat. Entah itu Infiltran maupun Sarvara. Adalah penutup yang memberikan ketegangan seperti menonton film 'thriller’ di bioskop.  Sayang hanya sebentar. Tak bisa ditemukan jawabannya, kecuali kita harus sabar menunggu buku selanjutnya.

Namun di antara semua kehidupan yang dijalani Alfa, terutama ketika di Amerika. Saya malah tertarik pada biji Andaliman, yang harus pertama kali diselamatkan oleh orang Batak  ketika ada kebakaran maupun bencana alam di tanah perantauan. Sekalipun itu tinggal segenggam saja. Jujur, saya jadi penasaran dengan biji ini. Yang bentuknya menyerupai merica hitam, dan konon dapat menyulap semua makanan menjadi masakan Batak. (hlm 146)

Bisa segitunya orang Batak melindungi biji Andaliman dengan nyawanya? Wow!

Banyak ungkapan, maupun dialog dalam Bahasa Inggris pada buku ini. Namun Dee memlih untuk tidak menerjemahkannya. Mungkin menimbang bahwa bahasa tersebut sudah bukan bahasa baru lagi yang harus diterjemahkan satu persatu, juga menganggap tingkat intelektualitas pembacanya sudah mampu memahami secara tekstual. Catatan-catatan kaki yang juga sangat membantu memahami istilah medis, bahasa “slank” ala New Yorker, selipan bahasa daerah Batak maupun bahasa-bahasa negara lain. Seakan-akan menguatkan bahwa buku ini benar-benar dibuat serius, tidak setengah-setengah.

www.deelestari.com